BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan kualitas manusia berkaitan dengan banyak faktor, dan faktor gizi mempunyai peranan yang sangat strategis. Gizi yang baik merupakan hasil dari konsumsi makanan dengan kecukupan yang dianjurkan dan keseimbangan antar zat-zat gizi tersebut. Jika keseimbangan ini tidak tercapai maka akan timbul berbagai jenis kelainan gizi.
Kelainan gizi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh untuk sumber zat gizi dan energi dengan penyediaan substrat matabolisme. Ketidakseimbangan mungkin terjadi karena kekurangan atau kelebihan yang ditandai dengan intake yang tidak sesuai atau penggunaan yang kurang baik, atau kadang-kadang karena kombinasi keduanya. Terlepas dari kebutuhan manusia untuk mempertahankan kesehatan, malnutrisi selanjutnya akan menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di negara-negara berkembang, khususnya bagi anak-anak.
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi yang mempunyai beragam resiko baik karena defisiensi maupun kelebihan intake. Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, berada pada resiko yang tinggi dari perkembangan kebutaan sehubungan dengan defisiensi vitamin A. Selain anak-anak, kelompok yang juga rentan terhadap defisiensi gizi adalah wanita hamil yang selanjutnya akan membahayakan janin yang dikandungnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena generasi-generasi baru yang akan lahir sangat ditentukan sejak dalam kandungan.
1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan diagnosa medis xeropthalmia.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien xeropthalmia.
b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien xeropthalmia.
c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien xeropthalmia.
d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien xeropthalmia.
e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien xeropthalmia.
a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien xeropthalmia.
b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien xeropthalmia.
c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien xeropthalmia.
d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien xeropthalmia.
e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien xeropthalmia.
BAB 2
KONSEP DASAR TEORI
XEROPTHALMIA
2.1 Definisi
Xeroftalmia adalah kelainan mata akibat kekurang vitamin A. Sebelum terdeteksi menderita xeropthalmia, biasanya penderita akan mengalami buta senja. Gejala xeropthalmia terlihat pada kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata. Kekeringan berlarut-larut menyebabkan konjungtiva menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Selanjutnya pada konjungtiva akan tampak bercak putih seperti busa sabun (bercak Bitot). Selanjutnya, kornea akan melunak dan terjadi luka (tukak kornea). Jika kornea telah putih atau bola mata mengempis terjadi kebutaan permanen yang tak bisa dipulihkan lagi.
2.2 Etiologi
Xeroftalmia disebabkan oleh kekurangan vitamin A yang dipicu oleh kondisi gizi kurang atau buruk. Kerap terjadi pada bayi lahir berat badan rendah, gangguan akibat kurang yodium (GAKY) serta anemia gizi ibu hamil.
Kelompok rentan xeroftalmia adalah anak dari keluarga miskin, anak di pengungsian, anak di daerah yang pangan sumber vitamin A kurang, anak kurang gizi atau lahir dengan berat badan rendah, anak yang sering menderita penyakit infeksi (campak, diare, tuberkulosis, pneumonia) serta cacingan serta anak yang tidak mendapat imunisasi serta kapsul vitamin A dosis tinggi. Defisiensi vitamin A awalnya merupakan ancaman yang tidak kelihatan, yang apabila tidak ditangani dapat menyebabkan hilangnya penglihatan seseorang terutama pada anak-anak. Dampak selanjutnya adalah ketika mereka tidak lagi bisa melihat pada cahaya yang suram dan akan menderita penyakit yang disebut night blindness (buta senja) atau xerophthalmia. Apabila penderitaan terus berlanjut konjangtiva dan cornea mata menjadi kuning) kemudian muncul bercorak pada kornea dan selanjutnya berakibat pada kebutaan yang permanen.
Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah asupan zat gizi vitamin A (preformed retinol) atau prekursor vitamin A yang tidak mencakupi peningkatan kebutuhan vitamin A pada kondisi fisiologis dan patologis tertentu, penyerapan yang kurang kehilangan karena diare sering merupakan penyebab kekurangan vitamin A.
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:
a. Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu lama.
Faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia adalah:
a. Konsumsi makanan yang kurang / tidak mengandung cukup Vitamin A atau pro vitamin A untuk jangka waktu lama.
b. Bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif.
c. Gangguan penyerapan vitamin A.
d. Tingginya angka infeksi pada anak (gastroenteritis/diare).
2.3 Tanda dan Gejala
Kurang vitamin A (KVA) adalah kelainan sistemik yang mempengaruhi jaringan epitel dari organ-organ seluruh tubuh, termasuk paru-paru, usus, mata dan organ lain, akan tetapi gambaran yang karakteristik langsung terlihat pada mata. Kelainan kulit pada umumnya tampak pada tungkai bawah bagian depan dan lengan atas bagian belakang, kulit tampak kering dan bersisik seperti sisik ikan. Kelainan ini selain disebabkan karena KVA dapat juga disebabkan karena kekurangan asam lemak essensial, kurang vitamin golongan B atau Kurang Energi Protein (KEP) tingkat berat atau gizi buruk. Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama. Gejala tersebut akan lebih cepat timbul bila anak menderita penyakit campak, diare, ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
Tanda-tanda dan gejala klinis KVA pada mata menurut klasifikasiWHO/USAID UNICEF/HKI/ IVACG, 1996 sebagai berikut :
XN : buta senja (hemeralopia, nyctalopia)
XIA : xerosis konjungtiva
XIB : xerosis konjungtiva disertai bercak bitot
Factor yang Mempengaruhi Terjadinya Xeroftalmia
1. Faktor Sosial budaya dan lingkungan dan pelayanan kesehatan
a. Ketersediaan pangan sumber vitamin A
b. Pola makan dan cara makan
c. Adanya paceklik atau rawan pangan
d. Adanya tabu atau pantangan terhadap makanan tertentu terutama yangmerupakan sumber Vit A.
e. Cakupan imunisasi, angka kesakitan dan angka kematian karena penyakit campak dan diare.
f. Sarana pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau
g. Kurang tersedianya air bersih dan sanitasi lingkungan yang kurangsehat
h. Keadaan darurat antara lain bencana alam, perang dan kerusuhan
2. Faktor Keluarga
a. Pendidikan :
Pendidikan orang tua yang rendah akan berisiko lebih tinggikemungkinan anaknya menderita KVA karena pendidikan yang rendah biasanya disertai dengan keadaan sosial ekonomi dan pengetahuan gizi yang kurang.
b. Penghasilan :
Penghasilan keluarga yang rendah akan lebih berisiko mengalamiKVA Walaupun demikian besarnya penghasilan keluarga tidak menjamin anaknya tidak mengalami KVA, karena harus diimbangi.Dengan pengetahuan gizi yang cukup sehingga dapat memberikanmakanan kaya vitamin A.
c. Jumlah anak dalam keluarga : Semakin banyak anak semakin kurang perhatian orang tua dalam mengasuh anaknya.
d. Pola asuh anak :
Kurangnya perhatian keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak seperti pasangan suami istri (pasutri) yang bekerjadan perceraian.
3. Faktor individu
a. Anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BB < 2,5 kg).
b. Anak yang tidak mendapat ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI sampaiusia 2 tahun.
c. Anak yang tidak mendapat MP-ASI yang cukup baik kualitas maupun kuantitas
d. Anak kurang gizi atau dibawah garis merah (BGM) dalam KMS.
e. Anak yang menderita penyakit infeksi (campak, diare, Tuberkulosis(TBC), Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), pneumonia dancacingan.
f. Frekuensi kunjungan ke posyandu, puskesmas/pelayanan kesehatan (untuk mendapatkan kapsul vitamin A dan imunisasi).
2.4 Patofisiologi
Terjadinya defisiensi vitamin A berkaitan dengan berbagai faktor dalam hubungan yang komplek seperti halnya dengan masalah KKP. Makanan yang rendah dalam vitamin A biasanya juga rendah dalam protein, lemak dan hubungannya antar hal-hal ini merupakan faktor penting dalam terjadinya defisiensi vitamin A.
Vitamin A merupakan “body regulators” dan berhubungan erat dengan proses-proses metabolisme. Secara umum fungsi tersebut dapat dibagi dua (i) Yang berhubungan dengan penglihatan dan (ii) Yang tidak berhubungan dengan penglihatan.
Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan dijelaskan melalui mekanisme Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap cahaya dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya berwarna. Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut sebagai Rhodopsin, yang merupakan kombinasi dari Retinal dan protein opsin. Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Fungsi yang berhubungan dengan penglihatan dijelaskan melalui mekanisme Rods yang ada di retina yang sensitif terhadap cahaya dengan intensitas yang rendah, sedang Cones untuk cahaya dengan intensitas yang tinggi dan untuk menangkap cahaya berwarna. Pigment yang sensitif terhadap cahaya dari Rods disebut sebagai Rhodopsin, yang merupakan kombinasi dari Retinal dan protein opsin. Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja.
Pigmen ungu yang terdapat pada sel basilus disebut rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap. Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat. Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan buta warna.
Perubahan dari rhodopsin ke retina terjadi pada proses penglihatan. Disini mungkin rhodopsin hanya salah satu dari struktur protein yang akan menjadi stabil setelah dikombinasi dengan vitamin A. Efek lain dari vitamin A pada penglihatan yang berpengaruh secara tidak langsung ialah pada epitel kornea dan konjungtiva. Pada keadaan defisiensi, epitel menjadi kering dan terjadi keratinisasi seperti tampak pada gambaran Xerophthalmia.
Xeroftalmia merupakan mata kering yang terjadi pada selaput lendir (konjungtiva) dan kornea (selaput bening) mata. Xeroftalmia yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kebutaan. Xeroftalmia terjadi akibat kurangnya konsumsi vitamin A pada bayi, anak-anak, ibu hamil, dan menyusui.
Patogenesis xeroftalmia terjadi secara bertahap ;
1. Buta senja (XN)
Disebut juga rabun senja. Fungsi fotoreseptor menurun. Tidak terjadi kelainan pada mata (mata terlihat normal), namun penglihatan menjadi menurun saat senja tiba, atau tidak dapat melihat di dalam lingkungan yang kurang cahaya. Untuk mengetahui keadaan ini, penderita sering membentur atau menabrak benda yang berada di depannya. Jika penderita adalah anak yang belum dapat berjalan, agak susah mendeteksinya. Biasanya anak akan diam memojok dan tidak melihat benda di depannya. Dengan pemberian kapsul vitamin A maka pengelihatan akan dapat membaik selama 2 hingga 4 hari. Namun jika dibiarkan, maka akan berkembang ke tahap selanjutnya.
2. Xerosis konjungtiva (X1A)
Selaput lendir atau bagian putih bola mata tampak kering, keriput, dan berpigmentasi pada permukaan sehingga terlihat kasar dan kusam. Mata akan tampak kering atau berubah menjadi kecoklatan.
3. Xerosis konjungtiva dan bercak bitot (X1B)
X1B merupakan tanda-tanda X1A ditambah dengan bercak seperti busa sabun atau keju, terutama di daerah celah mata sisi luar. Mata penderita umumnya tampak bersisik atau timbul busa. Dalam keadaan berat, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva (bagian putih mata), konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat, dan berkerut. Dengan pemberian vitamin A yang baik dan pengobatan yang benar, bercak akan membaik selama 2 hingga 3 hari, dan kelainan mata akan menghilang dalam waktu 2 minggu.
4. Xerosis kornea (X2)
Kekeringan pada konjungtiva berlanjut hingga kornea (bagian hitam mata) sehingga tampak kering dan suram, serta permukaan kornea tampak kasar. Umumnya terjadi pada anak yang bergizi buruk, menderita penyakit campak, ISPA, diare, dan sebagainya. Pemberian vitamin A yang benar akan membuat kornea membaik setelah 2 hingga 5 hari, dan kelainan mata akan sembuh selama 2 hingga 3 minggu.
5. Keratomalasia dan ulserasi kornea (X3A/ X3B)
Kornea melunak seperti bubur dan terjadi ulkus kornea atau perlukaan. Tahap X3A bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea. Tahap X3B bila kelainan mengenai sama atau lebih dari 1/3 permukaan kornea. Keadaan umum penderita sangatlah buruk. Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (pecahnya kornea). Bila penderita telah ditemukan pada tahap ini maka akan terjadi kebutaan yang tidak dapat disembuhkan.
6. Xeroftalmia Scars (XS)
Disebut juga jaringan kornea. Kornea mata tampak memutih atau bola mata tampak mengempis. Jika penderita ditemukan pada tahap ini, maka kebutaan tidak dapat disembuhkan.
2.5 Pencegahan Xeroftalmia
Prinsip dasar untuk mencegah xeroftalmia adalah memenuhi kebutuhan vitamin A yang cukup untuk tubuh serta mencegah penyakitinfeksi terutama diare dan campak. Selain itu perlu memperhatikankesehatan secara umum. Berikut beberapa langkah untuk mencegah Xeroftalmia :
1. Mengenal tanda-tanda kelainan secara dini
2. Bagi yang memiliki bayi dan anak disarankan untuk mengkonsumsivitamin A dosis tinggi secara periodik, yang didapatkan umumnya pada Posyandu terdekat.
3. Segera mengobati penyakit penyebab atau penyerta
4. Meningkatkan status gizi, mengobati gizi buruk
5. Memberikan ASI Eksklusif
6. Ibu nifas mengkonsumsi vitamin A (<30 hari) 200.000 SI
7. Melakukan Imunisasi dasar pada setiap bayi
2.6 Pengobatan
Pengobatan xeroftalmia adalah sebagai berikut :
a. Berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral atau 100.000 IU Vitamin A injeksi.
b. Hari berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
c. 1 – 2 minggu berikutnya, berikan 200.000 IU Vitamin A secara oral
d. Obati penyakit infeksi yang menyertai
e. Obati kelainan mata, bila terjadi
f. Perbaiki status gizi
2.7 Pemeriksaan fisik
Dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda atau gejala klinis dan menentukandiagnosis serta pengobatannya, terdiri dari :
a. Pemeriksaan umum
Dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit yang terkait langsungmaupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk,penyakit infeksi, dan kelainan fungsi hati.
Yang terdiri dari :
• Antropometri
Pengukuran berat badan dan tinggi badan
• Penilaian Status gizi
Apakah anak menderita gizi kurang atau gizi buruk Bila BB/TB : > -3 SD- < -2 SD, anak menderita gizi kurang atau kurus Bila BB/TB : £ 3, anak menderita gizi buruk atau sangat kurus.
• Periksa matanya apakah ada tanda-tanda xeroftalmia.
• Kelainan pada kulit : kering, bersisik.
b. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan mata untuk melihat tanda Xeroftalmia dengan menggunakansenter yang terang. (Bila ada, menggunakan loop.)
• Apakah ada tanda kekeringan pada konjungtiva (X1A)
• Apakah ada bercak bitot (X1B)
• Apakah ada tanda-tanda xerosis kornea (X2)
• Apakah ada tanda-tanda ulkus kornea dan keratomalasia (X3A/X3B)
• Apakah ada tanda-tanda sikatriks akibat xeroftalmia (XS)
• Apakah ada gambaran seperti cendol pada fundus oculi denganopthalmoscope (XF).
2.8 Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendukung diagnose kekurangan vitamin A, bila secara klinis tidak ditemukan tanda-tanda khasKVA, namun hasil pemeriksaan lain menunjukkan bahwa anak tersebutrisiko tinggi untuk menderita KVA.
2. Peneriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan serum retinol. Biladitemukan serum retinol < 20 ug/dl, berarti anak tersebut menderita KVAsub klinis.
3. Pemeriksaan laboratorium lain dapat dilakukan untuk mengetahuipenyakit lain yang dapat memperparah seperti pada :
• pemeriksaan darah malaria
• pemeriksaan darah lengkap
• pemeriksaan fungsi hati
• pemeriksaan radiologi untuk mengetahui apakah ada pneumonia atau TBC
• pemeriksaan tinja untuk mengetahui apakah ada infeksi cacingserta
• pemeriksaan darah yang diperlukan untuk diagnosa penyakit penyerta.
Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan di Puskesmas, Rumah Sakit / Labkesda atau BKMM, sesuai dengan ketersediaan sarana laboratorium.
2.9 Pathway
|
| Resiko Tinggi terhadap cedera |
| Kekeringan pada retina |
| Impuls yang masuk tidak dapat ditangkap dengan baik oleh retina dan diteruskan ke saraf optik |
| Perubahan penlihatan pada Senja Hari |
| Ancietas |
| Gangguan adaptasi gelap |
![]() | |||||||
![]() | |||||||
![]() | |||||||
|
|
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
3.1.1. Biodata pasien
a. Identitas Pasien
• Nama anak
• Umur anak
• Jenis kelamin
• Jumlah anak dalam keluarga
• Jumlah anak balita dalam keluarga
• Anak ke berapa
• Berat Lahir : Normal / BBLR
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasienbaik secara fisik maupun psikologis biasanya xeropthalmia akan menyerang pada kelompok umur bayi usia 6 – 11 bulan dan balita pada usia 1 – 5 tahun.
Jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahuihubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah / penyakit, Tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya, biasnya tingkat pengetahuan yang rendah akan mempengaruhi resiko terjadinya penyakit.
Biasanya xeropthalmia terjadi pada daerah pengungsian dan derah yang kurang kandungan vitaminAnya,biasnya daerah yang kekeringan.
b. Identitas Penanggung Jawab
• Nama ayah / ibu
• Alamat/tempat tinggal
• Pendidikan
• Pekerjaan
• Status Perkawinan
3.1.2. Keluhan Penderita
a. Keluhan Utama
Pasien akan mengeluh biasanya penglihatn rabun atau Ibu mengeluh anaknya tidak bisa melihat pada sore hari (buta senja) atau adakelainan pada matanya. Kadang-kadang keluhan utama tidak berhubungan dengan kelainan pada mata seperti demam.
b. Keluhan Tambahan
• Tanyakan keluhan lain pada mata tersebut dan kapan terjadinya?
• Upaya apa yang telah dilakukan untuk pengobatannya ?
3.1.3. Riwayat penyakit yang diderita sebelumnya
• Apakah pernah menderita Campak dalam waktu < 3 bulan ?
• Apakah anak sering menderita diare dan atau ISPA ?
• Apakah anak pernah menderita Pneumonia ?
• Apakah anak pernah menderita infeksi cacingan ?
• Apakah anak pernah menderita Tuberkulosis ?
3.1.4. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang sama atau penyakit yang lainnya.
3.1.5. Riwayat tumbuh kembang
a. Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam Centi meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun )x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usiaini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
b. Tahap perkembangan.
v Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) :
Inisiatif vs rasa bersalah. Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah danmenjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
v Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) :
Berada padafase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebihdekat ke ayahnya ).
v Perkembangan kognitif ( Piaget ) :
Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fasepemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar danmagical thinking.
v Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial :
sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskanperaturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
v Perkembangan spiritual :
yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
v perkembangan body image :
Yaitu perkembangan yang mengenal kata cantik, jelek, pendek – tinggi, baik – nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dan kelompoknya.
v Perkembangan sosial :
yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi.
v Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebihdari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
v Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwaorang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
v Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lainyang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan denganpertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat,berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
3.1.6. Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkapantara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
3.1.7. Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasankalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahanberat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. Status Gizi Klasifikasinya sebagai berikut :
§ Gizi buruk kurang dari 60%
§ Gizi kurang 60 % -
§ <80 %Gizi baik 80 % - 110 %
§ Obesitas lebih dari 120 %
3.1.8. Dampak Hospitalisasi
Sumber stressor :
1. Perpisahan
a. Protes : pergi, menendang, menangis
b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
3.1.9. Riwayat pola makan anak
• Apakah anak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan?
• Apakah anak mendapatkan MP-ASI setelah umur 6 bulan ?
• Bagaimana cara memberikan makan kepada anak : Sendiri / Disuapi.
3.1.10. Aktivitas / istirahat
Gejala: perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan khususnya pada senja hari.
3.1.11. Neurosensori
Gejala: gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas) khuisusnya pada sorehari, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat, perubahan respons biasa nya terhadap rangsangan
Tanda: Kekeringan pada konjungtiva bulbi. Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering,kusam, tegang dan keriput.Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput, dan timbul bercak yang mengganggu penglihatan.
3.1.12. Nyeri / kenyamanan
Gejala: ketidak nyamanan ringan / mata kering, sakit kepala
3.1.13. Integritas Ego
Gejala: peningkatan kepekatan atau kegelisahan
Tanda: cemas, marah, depresi. Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dalam membuat keputusan,ketakuta dan ragu-ragu.
3.1.14. Interaksi sosial
Gejala: perasaan isolasi/penolakan
Perasaan kesepian
Ketidakamanan dalam situasi sosial
Menggambarkan kurang hubungan yang berarti
Tanda: keinginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lainKontak mata buruk.
3.1.15. Pemeriksaan diagnostik
a. Tes adaptasi gelap
b. Kadar vitamin A darah (kadar <200 mg/200 ml menunjukkankurang intake.
3.2. Pengelompokan Data
A. Data subjektif
• Keluhan perubahan pengelihatan pada senja hari
• Perubahan respon biasanya terhadap rangsangan
• Tidak bisa memfokuskan kerja dengan dekat
• Tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah
• Ketidaknyamanan ringan / mata kering
• Cemas,marah, defresi, ketakutan dan ragu-ragu
• Perasaan kesepian
• Ketidaknyamanan dalam situasi sosial
B. Data Objektif
• Kekeringan pada konjungtiva bulbi
• Bagian mata putih timbul bercak seperti buih sabun, kering, kusam,tegang dan keriput.
• Bagian mata hitam menjadi kering, kusam, keruh, keriput dan timbul bercak yang mrngganggu pengelihatan
• Peningkatan kepekatan atau kegelisahan
• Isolasi dan penolakan
• Ketidak inginan terhadap kontak lebih banyak dengan orang lain
• Kontak mata buruk
3. 3 Analisa Data
| No. | Data | Etiologi | Masalah | |||||||||
| 1. | Data Subyektif : Perubahan respon, biasanya pada rangsangan Data Obyektif : | Devisiensi Vit A Kekeringan pada Retina Influs yang masuk tidak dapat ditangkap dgn baik oleh retina dan diteruskan ke syaraf Optik Gangguan adaptasi gelap | Gangguan sensori – persepsi penglihatan. | |||||||||
| 2. | Data Subyektif : Keluhan perubahan penglihatan pada senja hari Data Obyektif : Mata hitam menjadi kering, kusam, keriput dan timbul bercak yang mengganggu penglihatan | Devisit Vit A Perubahan penglihatan pada senja hari | Resiko tinggi terhadap Cedera | |||||||||
| 3. | Data Subyektif : Menyatakan masalah tentang perubahan hidup Data Obyektif : Ketakutan. Ragu-ragu. | Devisi Vit A Influs yang masuk tidak dapat ditangkap dgn baik oleh retina dan diteruskan ke syaraf Optik Perubahan penglihatan pada senja hari Ancaman Kehiupan | Ansietas |
3.4. Diagnosa dan Intervensi
1. Gangguan sensori –persepsi penglihatan b/d - gangguan penerimaan sensori/status organ indra.
Ditandai dengan :
- menurunnya ketajaman , gangguan penglihatan
- perubahan respons biasanya terhadap rangsang
Plaining
Tujuan :
sensori-perseptual : penglihatan tidak mengalami perubahan.
dengan kriteria :
- meningkatnya ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
- mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan - mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalm linkungan.
Intervensi atau tindakan
1. Kaji ketajaman penglihatan
R/ untuk mengetahui ketajaman penglihatan klien dan member penglihatan menurut ukuran yang baku.
2. Dorong klien mengekspresikan perasaan tentang kehilangan atau kemungkinan kehilangan penglihatan.
R/ sementara intervensi dini mencegah kebutaan, psienmenghadapi kemungkinan kehilangan penglihatan sebagian atautotal.meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi tidak dapatdiperbaiki meskipun dengan pengobatan kehilangan lanjut dapt dicegah.
3. Lakukan tindakan untuk membantu klien menangani keterbatasan penglihatan.
Contoh: kurangi kekacauan, atur perabot, perbaiki sinar yang suram dan masalah penglihatan malam.
R/ menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang atau kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan.
4. Kolaborasi
a. Test adaptasi gelap
R/ untuk mengetahui adanya kelainan atau abnormalitas dari fungsi penglihatan klien.
b. Pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah.
R/ untuk mengetahui keadaan defisiensi keadaan vitamin Adalama darah sebagai pemicu terjadinya penyakit xeroftalmia.
c. Pemberian obat sesuai indikasi :
· Pemberian vitamin A dalam dosis terapeutik yaitu vitamin Aoral 50.000 – 75.000 IU/kg BB tidak lebih dari 400.000 -500.000 IU.
R/ pemberian vitamin A dosis terapeutik dapat mengatasi gangguan penglihatan tahap dini. Dengan memberikan dosis vitamin secara teratur dapat mengembalikan perubahan penglihatan pada mata.
· Pengobatan kelaina pada mata
ü stadium I : tanpa pengobatan
ü stadium II : berikan AB
ü stadium III : berikan sulfa atropine 0,5% ,tetes matapada anak atau SA 4% pada orang dewasa.
R/ mengembalikan ke fungsi penglihatan yang baik dan mencegah terjadinyakomplikasi lebih lanjut.
2. Resiko tinggi terhadap cedera b / d keterbatasan penglihatan. Ditandai dengan :
- mata hitam menjadi kering,kusam, keruh, keriput, dan timbul bercak yangmengganggu penglihatan.
- keluhan penglihatan pada senja hari
Planning
Tujuan : cedera tidak terjadi
Dengan kriteria:
- klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi / tindakan
1. Orientasikan klien dengan lingkungan sekitarnya.
R/ meningkatkan pengenalan terhadap lingkungannya.
2. Anjurkan keluarga untuk tidak memberikan mainan kepada klien yang mudah pecah seperti kaca dan benda-benda tajam.
R/ menghindari pecahnya alat mainan yang dapat mencederai klien atas benda tajam yang dapat melukai klien.
3. Arahkan semua alat mainan yang dibutuhkan klien pada tempat yang sentral dari pandangan klien.
R/ memfokuskan lapang pandang dan menghindari cedera.
3. Ansietas b / d faktor fisiologis. Ditandai dengan :
- Perubahan status kesehatan: kemungkinan/kenyataan
- Kehilangan penglihatan
Planning
Tujuan: klien akan mengungkapkan bahwa kecemasan sudahberkurang / hilang
Dengan kriteria :
- Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapatdiatasi
- Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
- Menggunakan sumber secara efektif
Intervensi/Tindakan
1. Kaji tingkat ansietas, timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
R/ faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas dan dapat mempengaruhi upaya medicuntuk mengontrol terapi yang diberikan.
2. Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan.
R/ menurunkan ansietas sehubungan denganketidaktahuan / harapan yang akan dating dan berikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang pengobatan.
3. Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikanperasaan.
R/ memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasinyata, mengkelarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.
4. Identifikasi sumber/orang yang menolong.
R/ meberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalammenghadapi maslah.
3.5. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi.
3.6. Evaluasi Keperawatan
a . Ketajaman penglihatan klien dalam batas normal.
b. Klien dapat mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadapperubahan.
c. Klien dapat memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
d. Klien dapat menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
e. Klien dapat menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan pengobatan.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Xerophthalmia Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang berakibat kebutaan. Vitamin sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan hidup, tidak hanyapada fungsi penglihatan tetapi juga pada proses perkembangan yang dimulai sejak pembentukan embrio. Vitamin A terus diperlukan untuk mempertahankan diferensiasi sel secara nornal sepanjang hidup. Dapat dipahami pentingnya jika vitamin A digunakan sepanjang waktu untuk pencegahan dan kontrol penyakit kanker.
4.2 Saran
Untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan metabolisme dalam tubuh seseorang sebaiknya mengkonsumsi zat-zat gizi sesuai dengan kecukupannya. Karena vitamin A mempunyai efek yang kurang baik bagi keseimbangan didalam tubuh, baik jika dikonsumsi dalam jumlah yang kurang maupun berlebihan maka sangat penting untuk dipertimbangkan kembali untuk mengkonsumsinya dalam jumlah yang berlebih (misalnya dengan suplemen).
DAFTAR PUSTAKA
Hasan,R.2005. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak . Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia.
Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak . Jakarta : SalembaMedika.Ranuh, I.G.N,Dkk. 2001.
Buku Imunisasi Di Indonesia . Jakarta: Satgas ImunisasiIkatan Dokter Anak Indonesia.Wilkinson, Judith M. 2006.
Buku Saku Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC
. Jakarta : EGC.Staf pengajar ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran UI. 1985.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar